Tari Batobo merupakan salah satu warisan budaya Minangkabau yang sarat akan makna filosofis dan nilai kebersamaan. Tarian ini pertama kali terbentuk pada tahun 1983 dan lahir dari lingkungan masyarakat Nagari Piobang, Sumatera Barat. Nama "Batobo" berasal dari istilah "berombongan", yang terinspirasi dari perilaku sekawanan burung yang terbang bersama-sama dalam satu kesatuan. Konsep tersebut menjadi landasan utama dalam penggambaran gerak dan makna tari Batobo. Secara tematis, Tari Batobo merefleksikan kehidupan masyarakat agraris Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Dalam tarian ini, penari perempuan (padusi) digambarkan sedang menangkap ikan, sementara penari laki-laki memperagakan aktivitas mencangkul sawah. Gerakan-gerakan tersebut melukiskan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan, khususnya dalam mengolah lahan pertanian. Para penari kemudian berarak menuju sawah dengan diiringi alunan musik talempong yang ritmis dan dinamis, menciptakan suasana kebersamaan yang kuat.
Gerak dasar Tari Batobo tersusun atas empat ketukan utama. Empat ketukan ini melambangkan empat burung yang terbang berombongan, sekaligus merepresentasikan pilar-pilar penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yaitu adat, syarak, dan tauhid. Pembagian gerak menjadi empat langkah utama juga mencerminkan keseimbangan dan harmoni antara nilai budaya, agama, dan kehidupan sosial masyarakat. Keunikan lain dari Tari Batobo terletak pada interaksi antar pemainnya. Tarian ini diwarnai dengan balas pantun antara penari laki-laki dan perempuan, yang menghadirkan suasana ceria sekaligus sarat makna filosofis. Pantun-pantun tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan nilai kebersamaan. Iringan musik talempong semakin memperkuat kesan berarak ke sawah, seolah mengajak penonton ikut merasakan kedekatan manusia dengan alam dan sesamanya.
Menariknya, Tari Batobo lahir dari inisiatif Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), sehingga menjadikannya sebagai media pendidikan yang mengintegrasikan seni, kesehatan, dan pembentukan karakter masyarakat. Melalui tarian ini, nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, dan hidup sehat ditanamkan secara kreatif dan menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, Tari Batobo menghadapi tantangan serius dalam upaya pelestariannya. Penari-penari asli tarian ini kini semakin jarang ditemui dan sebagian besar telah berusia lanjut. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan warisan budaya ini. Meski demikian, Tari Batobo tetap menjadi simbol kebersamaan masyarakat Nagari Piobang, layaknya burung yang terbang berombongan, saling menguatkan dalam satu tujuan. Oleh karena itu, upaya regenerasi menjadi hal yang sangat penting agar Tari Batobo tidak pudar ditelan zaman. Pelestarian dapat dilakukan melalui program pendidikan di sekolah, sanggar seni, serta komunitas budaya, sehingga generasi muda dapat mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya Minangkabau ini. Dengan demikian, Tari Batobo akan terus hidup sebagai pengingat nilai gotong royong dan identitas budaya Minangkabau yang luhur.