You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Nagari Piobang
Piobang

Kec. Payakumbuh, Kab. LIMA PULUH KOTA, Provinsi SUMATERA BARAT

SELAMAT DATANG DI KANTOR WALI NAGARI PIOBANG

Randai: Kesenian Tradisional Minangkabau di Nagari Piobang

Administrator 30 Januari 2026 Dibaca 11 Kali

Randai adalah kesenian khas Minangkabau yang mulai berkembang pesat sekitar tahun 1930-an. Seni ini dipercaya muncul sebagai bentuk perlawanan budaya terhadap penjajahan. Pada awalnya, masyarakat menyamarkan latihan bela diri (silek) ke dalam gerakan tarian melingkar agar terlihat seperti hiburan biasa dan tidak dicurigai penjajah. Secara filosofi, nama Randai berasal dari kata "berandai-andai".

Di Nagari Piobang, Randai diperkenalkan sekitar tahun 1970–1974 oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang, dan pertama kali berkembang di Jorong Gando. Ada juga pendapat lain yang mengaitkan lahirnya Randai dengan Perjanjian Marapalam, saat para pakar adat dan pendekar dari berbagai daerah berkumpul dan menampilkan kesenian masing-masing. Di wilayah Luhak 50 Kota, perkembangan Randai juga dikaitkan dengan Buya Hamka. Beliau memadukan silek dengan unsur drama agar pertunjukan lebih bernilai seni. Seiring waktu, Randai semakin lengkap dengan tambahan gurindam serta iringan alat musik tradisional seperti saluang, bansi, talempong, canang, gandang, dan rabab. Perpaduan inilah yang membentuk Randai seperti yang dikenal sekarang. Ciri khasnya adalah gerakan melingkar yang disebut gelombang.

Cerita dalam Randai sering mengangkat kisah tentang perempuan. Hal ini mencerminkan tingginya kedudukan perempuan dalam budaya Minangkabau. Randai tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Busana pemain Randai juga penuh makna. Pemain laki-laki biasanya memakai celana galombang yang longgar sehingga menimbulkan bunyi tepukan saat bergerak. Pemeran perempuan mengenakan baju kurung dan tangkuluk tanduk, yang melambangkan kehormatan dan wibawa perempuan Minang. Warna pakaian pun menunjukkan peran tokoh, Warna kuning melambangkan keagungan seorang Sultan atau bangsawan, warna hitam mewakili kewibawaan Ninik Mamak (pemimpin adat), warna merah karakter penjahat atau pemberontak, sementara warna putih melambangkan kesucian.

Seiring perkembangan zaman, Randai mengalami perubahan. Dahulu, Randai klasik bisa berlangsung hingga tiga hari dan banyak membahas hukum adat. Kini muncul Randai kreasi yang lebih singkat dan fleksibel. Jika dulu didominasi laki-laki, sekarang perempuan juga memegang peran penting, terutama dalam cerita yang mengangkat kehidupan sehari-hari. Kisah seperti Sabai Nan Aluih menempatkan perempuan sebagai tokoh utama, mencerminkan sistem matrilineal Minangkabau dan peran perempuan sebagai bundo kanduang di Rumah Gadang. Di Nagari Piobang sendiri, Randai masih lestari, di antaranya melalui kelompok Randai Putiah Bungo Inai di Jorong Gando dan Saedar Janela dari Jorong Ampang.

 

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBN 2026 Pelaksanaan

APBN 2026 Pendapatan

APBN 2026 Pembelanjaan