Oto Bugih adalah kendaraan modifikasi inovatif berbasis mobil Kijang yang diciptakan sekitar enam tahun lalu oleh Wali Nagari saat itu, bapak Syaffan Nur di Nagari Piobang. Ide tersebut berawal dari hobi beliau dalam bidang rancang bangun, yang semakin berkembang setelah melakukan studi banding ke Jawa Tengah. Dalam kunjungan tersebut, beliau melihat bagaimana kawasan terdampak letusan Gunung Merapi mampu diubah menjadi objek wisata vulkanik yang menarik. Dampaknya tidak hanya pada sektor pariwisata, tetapi juga mendorong tumbuhnya berbagai usaha, termasuk bengkel modifikasi kendaraan. Pengalaman itulah yang menginspirasi beliau untuk berpikir kreatif mengenai potensi daerahnya sendiri. Meski Nagari Piobang tidak memiliki bentang alam ekstrem atau objek wisata alam serupa, semangat inovasi tetap bisa diwujudkan melalui karya otomotif yang bernilai budaya. Prototipe pertama dibuat dengan membongkar Kijang pribadi, membeli bahan baku, dan menyusun pola kasar yang awalnya dicemooh banyak pihak karena dianggap tak laku. Terobosan terjadi saat ditawarkan ke saudara untuk kendaraan pesta pernikahan, disusul oleh video nya yang viral, sehingga dalam waktu kurang dari setahun pesanan membanjir dan produksi masif menyusul.
Kini, Oto Bugih tidak hanya sekadar kendaraan modifikasi, tetapi telah menjelma menjadi simbol budaya Nagari Piobang. Keberadaannya membawa dampak strategis dalam berbagai aspek pemberdayaan masyarakat. Pertama, Oto Bugih menjadi sumber motivasi bagi generasi muda di bidang otomotif, mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan teknis dan kreativitas. Kedua, desainnya yang khas turut mengangkat dan melestarikan unsur-unsur adat Minangkabau dalam bentuk visual yang modern. Selain itu, Oto Bugih juga difungsikan sebagai kendaraan protokoler untuk menjemput tamu resmi di Kantor Wali Nagari, menambah nilai representatif daerah. Tak kalah penting, kendaraan ini mendukung kegiatan studi banding serta produksi karya anak-anak daerah, sehingga berkontribusi pada tumbuhnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan di Nagari Piobang. Melalui Oto Bugih, terlihat jelas bahwa keterbatasan kondisi alam bukanlah penghalang untuk berinovasi. Dengan kreativitas, keberanian mencoba, dan semangat memberdayakan masyarakat, sebuah gagasan sederhana dapat berkembang menjadi kebanggaan bersama.